Assalamu’alaikum sobat Blogger yang kami banggakan. 😊 Mohon maaf ternyata membuat tulisan memang belum bakatnya jadi kalau memang tak ada ide maka tak ada yang bisa saya tuliskan di blog bellaapip.blogspot.com ini. 🙏 Sekali lagi saya mohon maaf. 🙏 🙏
Sebelum saya datang kesana biodata calon istri saya sudah dapat dari Ibu dan sudah saya baca-baca terlebih dahulu. Karen masih merasa kurang maka saya mencoba mencari informasi sendiri lewat google dan beberapa media sosial, alhasil ketemu namun semua sosial media di gembok. Tak puas sampai di situ di salah satu sosial medianya ternyata berteman dengan teman SMP saya, dan ternyata benar mencoba mencari hal-hal yang wajar lewat teman saya tersebut. Dan di akhir chat teman saya berpesan "beruntung kowe nek iso entuk wedok sing sregep nyetrika haha", kurang lebihnya seperti itu.
Sambil menunggu hasil swab keluar dan di tengah kebingungan mau maju atau tidak. Nasehat dari Bapak untuk mencoba dulu karena bebrapa tahun lalu (lupa tahun berapa haha), 😅 ada tawaran juga untuk menikah tapi tidak saya pedulikan atau gantungkan (jahat ndak siih??). Ibu juga menasehati hal sama untuk mencoba karena tidak ada salahnya. Ya setelah memantapkan diri dan meminta petunjuk sama Allah. Alhamdulillah..
Setelah semua keluarga mengikuti uji swab dan semua di nyatakan sembuh alias negatif covid-19 termasuk Ibu saya maka tanggal 6 September 2020 berangkatlah saya, Ibu dan Bapak ke rumah kawan lama Bapak saat awal berjuang dulu di dekat stasiun Klaten. Tiga hari sebelum berangkat kami merencanakan pergi agar tidak di ketahui oleh adik-adik karena masih proses awal. Rencananya saya pergi dengan motor, lalu parkir motor ke pusat perbelanjaan dan Bapak, Ibu menjemput dengan mobil kemudian berangkat bersama ke Klaten. Namun realitanya hingga dua kali ke pusat perbelanjaan baru buka jam 9 maka di putuskan untuk parkir di area stasiun dekat bandara. 😆😆 (haha rempong yaa)
Ya di sanalah pertama kali saya melakukan pertemuan ta’aruf (deg-degan haha). Saya di temani ibu, dan calon istri di dampingi ibu -ibu kepercayaan dari orangtuanya. Berlangsunglah diskusi atau ngobrol-ngobrol yang serius tapi santai, yang santai tapi serius.
Oke segitu dulu cerita ini, semoga pembaca bisa mengambil hikmah yang ada di dalam tulisan ini. Jika pembaca belum membaca tulisan sebelumnya bisa klik di sini karena tulisan ini berkaitan satu sama lain. Sampai bertemu di tulisan berikutnya. Wassalamu’alaikum 😊😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar